Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2011

Saya, Kamu, Kita, Bukan Cuma Seonggok Daging yang Hanya Punya Nama

Judul buku    : 5 cm. (Novel)
Pengarang    : Dhonny Dhirgantoro
Tebal           : 381 halaman
Penerbit       : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun terbit : April 2011, cetakan ketujuhbelas

Cerita tentang tongkrongan lima orang anak manusia yang mengaku “manusia-manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu”. Kelima anak manusia yang menjadi tokoh sentral dalam certita ini adalah si ganteng Arial, si penyair yang selalu bimbang Zafran, si badan bengkak Ian, the leader Genta, serta si cantik, cerdas dan seorang N-ACH sejati (manusia yang mengutamakan achievement dalam memenuhi kebutuhannya) Riani. Mereka menjalin persahabatan yang sangat erat semenjak SMA, bahkan mereka seperti sudah menjadi bagian satu sama lain. Sering nongkrong bersama, tapi bukan sekedar nongkrong, mereka selalu berdiskusi tentang apa saja, tentang negara, tentang filsafat, tentang cinta atau apapun yang mereka ingin diskusikan. Tentu saja dengan gaya khas mereka, gilaa!

Mungkin sebaiknya kita nggak ketemuan dulu,” Genta mengalirkan kalimat pendek. Menjadi awal mula segalanya, mencoba keluar sebentar dari dunia mereka berlima, agar masing-masing bisa memulai merancang mimpinya sendiri. Tidak saling bertemu dan tidak ada komunikasi sama sekali di antara mereka selama 3 bulan. 

Masing-masing dari mereka membawa cerita sendiri, dengan semua kisah pribadinya. Namun, bagi saya yang paling menyentuh adalah kisah si gajah bledug Dufan, Ian yang berjuang selama kurang dari 3 bulan untuk lulus. Tangan papa-mamanya yang dirasa sudah tidak sehalus dulu lagi, Ian juga merasakan kulit keriput di tangan kedua orangtuanya, tentu memberikan semangat tersendiri. Berjuang dengan sepenuh tenaga, atas dasar keyakinannya bahwa ia pasti bisa diwisuda dua bulan lagi. Hingga pada suatu saat Ian ketemu dengan seseorang yang mau membatu mengisi kuisioner skripsinya dan menurutnya pula ini sebuah Hoki, ya mas Fajar namanya. Namun dosen pembimbing Ian justru melihat dari sudut pandang yang berbeda tentang mas Fajar.

Mas Fajar ada di situ, sore itu, bukan karena kamu hoki,tapi kerja keras kamu selama ini yang telah kamu tanam dengan terus tekundan pantang menyerah dalam menjalankannya. Apa yang kamu kerjakan itu menumpuk dan menunggu untuk dibalas. Ketegaran kamu, ketikan kamu yang berjam-jam, waktu yang kamu habiskan buat baca, waktu yang kamu habiskan buat bolak-balik kemana-mana. Mata kamu yang selalu terlihat lelah karena kurang tidur, keteguhan kamu, semua biaya yang orangtua kamu keluarkan, restu orangtua kamu, semuanya nggak pernah sia-sia.”
Semua akhirnya menumpuk dalam keranjang dharma kamu, menumpuk tinggi, menunggu untuk diberikan ke kamu, dan akhirnya yang Mahakuasa memberikannya kepada kamu dengan berbagai cara yang DIA mau. Salah satunya dengan ketemu mas Fajar di sore itu. Saya, semenjak kamu cerita sudah nggak percaya kalau mas Fajar adalah satu kebetulan. Mas Fajar adalah perantara yang dikirim untuk membalas dharma kamu. Semua usaha kamu selama ini, semua yang telah kamu tanam akhirnya kamu petik.

Kata-kata dari dosen pembimbing Ian inilah yang membuat saya pertama kali menangis selama membaca novel ini. Luas, dalam, dan sangat menyentuh. Bukan hanya tertuju untuk kasus skripsi Ian, tapi mungkin kalimat-kalimat ini juga bisa diaplikasikan pada beberapa segi kehidupan yang sedang saya jalani ini. Bahwa memang tidak ada yang namanya kebetulan, semua terjadi sesuai dengan apa yang telah kita perbuat.
Tiga bulan telah berlalu, mereka akhirnya bisa bertemu dan menceritakan apa-apa yang telah terjadi pada masing-masing selama sekian waktu itu. Di perjalanan menuju puncak mahameru ini juga mereka warnai dengan diskusi-diskusi dan renungan-renungan sederhana namun sarat dengan makna. Tentang bangsa, tentang korupsi, tentang penduduk desa dan kota, atau tentang apa saja yang mereka temui saat itu.

Cinta? Tentu saja ada. Walaupun diceritakan Genta yang jatuh cinta dengan Riani, namun akhirnya Zafranlah yang menikah dan mempunyai anak dari Riani. Padahal Zafran kala itu jatuh cinta dengan Dinda, adik Arial. Itulah cinta, cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, dan bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-palajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya.

Sebuah buku yang kocak, menggelitik, menyentuh, dan banyak menambah pengetahuan. Apalagi dipenuhi dengan dialog-dialog yang khas, penggalan lagu-lagu keren sepanjang masa, serta beberapa penggalan dialog dari beberapa film, membuat bacaan ini semakin menarik.

Bermimpilah, bermimpilah, sekali lagi bermimpilah. Setelah itu, biarkan keyakinan itu 5 cm. menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan sering menatap ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa!!

impian.harapan.cita-cita.penciptaku.alamNya.tanahNya.udaraku.udaraNya.cinta.harapan.ilmu.sahabatku.negriku.langit-langit kamarku.syairku.ke-aku-anku.berpijakku.benderaku.aku.dia.mereka.kamu.tanah merahku.hati.semangat.doa.napas.irama.dharmaku.tempatku.demi-ku.langkahku.manusia.jalanku.tempatku berteduh.konjungtiva.niat.hati.rasa.perjuangn.manusia sebenar-benarnya.suciku.putih-ku hitam-ku.tangisku.tumpuanku.ada-ku.genggamanku.erat-ku.garbaku.jelangku.bagindaku.bahagiaku.peluhku.penciumanku.perjuangan.harapan.cinta.telapak kaki surgaku.guruku.diamku.impianku.dayaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar