Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

Bu Siami, Ini Bukan Masalah tak Punya Hati!

“Masalah ini membuat mental anak saya terbebani, apalagi harus ujian ulang. Seharusnya tidak usah dilakukan ujian ulang.”, ucap Bu Siami.

Bu Siami, ibu dari Alif Ahmad Maulana (Alif), salah satu peserta Unas SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya merasa cemas akan kabar bahwa akan diadakan Unas ulang jika nilai siswa satu kelas Alif banyak yang sama dan bisa dipastikan terjadi “contek masal”. Beliau mengkhawatirkan kondisi mental Alif jika Unas ulang ini benar-benar dilaksanakan. Kasus ini bermula dari Alif yang dipaksa oleh dua orang gurunya untuk memberikan contekan jawaban Unas kepada teman-temannya. Alif sendiri tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada ibunya, Bu Siami justru mendengar berita tersebut dari desas-desus tetangga di sekitar rumahnya. Setelah didesak ibunya, Alif akhirnya mengaku terpaksa memberikan contekan kepada teman-temannya karena dipaksa oleh gurunya. Bu Siami lantas mengadukannya kepada Kepala Sekolah, Komite Sekolah, bahkan ke Dinas Pendidikan setempat, namun tidak ada tindakan lebih lanjut. Parahnya, karena kejadian ini, Bu Siami sampai diusir dari lingkungan tempat tinggalnya, bahkan ada yang mengatakan bahwa Bu Siami tak punya hati karena membesar-besarkan kasus tersebut.

Kasus Bu Siami ini merupakan salah satu contoh kecurangan dari begitu banyak kasus kecurangan yang terjadi pada setiap kali penyelenggaraan Unas. Bukan hanya di tingkat SD melainkan juga pada tingkat sekolah menengah -SMP dan SMA-. Kasusnya pun bermacam-macam, mulai dari tidak lancarnya distribusi soal Unas ke daerah-daerah, kebocoran soal Unas, sampai pada kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pelaku pendidikan, baik siswa maupun guru.

Bagaimana dengan dampak dari kecurangan ini? Secara psikologis jelas berdampak pada kondisi mental anak, dalam hal ini Alif. Apalagi jika benar akan diadakan Unas ulang, Alif harus belajar lagi, harus mempersiapkan mental untuk menghadapi guru dan teman-teman sekelasnya setelah kasus ini menjadi besar. Lebih luas lagi, berdampak pada imej dunia pendidikan di Indonesia, terutama pandangan negatif masyarakat terhadap guru. Sehingga usaha untuk mewujudkan sistem pendidikan yang ideal semakin jauh dari hasil yang diharapkan.

Bu Siami, kejujuran anda patut diberi acungan jempol. Sekolah memang merupakan wadah untuk mentransformasi ilmu pengetahuan, tetapi pendidikan budi pekerti siswa jangan dilupakan. Rasanya sia-sia saja jika siswa memiliki nilai akademis yang bisa dibanggakan, namun tidak menjadi manusia yang bermoral. Sikap Bu Siami sebagai orangtua yang mengajarkan tentang kejujuran kepada anaknya ini perlu dijadikan teladan. Sebab melalui teladan, anak akan lebih mudah untuk meniru ketimbang dari sekedar perintah yang tidak dibarengi sikap positif orangtua atas apa yang diperintahkan tersebut.

Andai saja semua orangtua seperti Bu Siami, akan ada berapa kasus yang bisa terbongkar? Pertanyaan selanjutnya adalah, apa iya akan bisa tertuntaskan? Bukankah selama ini hanya muncul sebentar, lalu menghilang lagi tanpa upaya tindak lanjut yang jelas sehingga kasus yang sama muncul kembali di tahun-tahun berikutnya..

Solusinya? kalau evaluasi Unas atau evaluasi sistem pendidikan yg selama ini sering digembor-gemborkan pemerintah tidak pernah ada hasil, maka bagaimana jika perbaikan atau penataan kembali sistem pendidikan itu dimulai dari tingkat lingkungan keluarga? Seperti Bu Siami, yang selalu berusaha menanamkan nilai kejujuran kepada Alif. Sebab, mengandalkan usaha pemerintah saja tidaklah cukup kalau tidak dibarengi dengan usaha dari diri sendiri untuk mewujudkan perubahan. Mulai menciptakan iklim yang edukatif di lingkungan keluarga, tanamkan budi pekerti mulai dari hal yang sederhana, lalu beri contoh sikap bukan sekedar ucapan perintah. Semoga!

Minggu, 17 Mei 2009

Menggagas Pendidikan Ideal Masa Depan

Melihat wajah dunia pendidikan kita saat ini cukup membuat prihatin masyarakat terutama para pelaku pendidikan. Mulai dari minimnya sarana dan prasarana pendidkan, kurikulum, kompetensi pendidik, hingga realisasi 20% dari APBN untuk pendidikan yang belum juga terwujud. Permasalahan yang begitu kompleks ini tentu saja tidak bisa dibiarkan terus menerus larut. Setidaknya ada suatu usaha terutama pemerintah untuk kembali membangun dunia pendidikan kita yang semakin terpuruk ini. Rasanya sudah cukup banyak kritik dan wacana mewarnai perjalanan pendidikan dalam mewujudkan suatu bentuk idealnya. Harapannya, dari banyak kritik dan wacana di atas dapat menumbuhkan suatu perbaikan baik dari pemerintah maupun dari banyak praktisi pendidikan pada khususnya melalui sumbangsinya dalam bentuk ide, gagasan, pikiran, maupun tenaganya untuk perbaikan pendidikan di Indonesia.
Entah apa yang menjadi kendala pasti dalam keterpurukan dunia pendidikan kita saat ini. Tingkat keprofesionalan dan intelektualias guru yang rendah, bukanlah menjadi satu-satunya alasan. Atau mungkinkah sistem yang selama ini telah mengalami banyak sekali perubahan -perbaikan- belum juga mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Lantas upaya apa yang secepatnya dapat ditempuh dalam tujuan mewujudkan pendidikan ideal masa depan? Jawabannya tentu saja menjadi lain ketika kita mau belajar dari kesalahan atau mungkin bercermin dari negara-negara yang telah maju, khususnya dalam bidang pendidikannya.
Salah satu negara yang dapat dijadikan contoh dalam mengangkat dan meningkatkan mutu pendidikan adalah Amerka Serikat (AS). Rasa keinginan untuk mengangkat mutu pendidikannya bermula ketika AS merasa kalah dari Rusia (ketika itu Uni Soviet) menyangkut suksesnya astronot pertama dari Rusia melintasi orbit bumi pada tahun 1957. AS melihat kekalahannya dimungkinkan karena mutu pendidikan di AS yang masih rendah. Rasa rendah tersebut ternyata mampu membawa AS dalam memperbaiki dunia pendidikannya sebagai dasar dalam mengatasi ketertinggalannya terutama terhadap Rusia. Di Indonesia, untuk memperbaiki dunia pendidikan tidaklah harus menunggu kekalahan dari negara lain, sebab pada kenyataannya sudah terlalu banyak kegagalan dam kesalahan yang kita ciptakan. Namun, setidaknya gambaran kebangkitan AS dalam hal pendidikan ini mampu menjadi cermin sekaligus pijakan awal dalam rangka perbaikan mutu pendidikan kita.
Secara umum, langkah awal yang dapat ditempuh ialah dengan memperbaiki Sumber Daya Manusia yakni menyangkut kompetensi dan intelektualitas serta keprofesionalan dari para pendidiknya. Dengan kompetesi yang cukup ini diharapkan dalam suatu kegiatan belajar mengajar (KBM) seorang guru mampu menggunakan metode pembelajaran tematik, yakni dalam suatu KBM guru mampu memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembelajaran ini dianggap efektif sebab setidaknya mampu membawa peaserta didik untuk mampu mengaplikasikan apa yang telah diperoleh dari KBM dalam kehidupan bermasyarakat secara langsung.
Selanjutnya, sedikit mengadopsi dari undang-undang yang sangat terkenal dalam meningkatkan mutu pendidikan di AS adalah setidaknya dalam jangka waktu 10 tahun, diharuskan:
  1. Semua anak harus berada di sekolah (dalam arti tidak ada lagi anak putus sekolah)
  2. Siswa kelas 6, 9, dan 12 mempunyai kompetensi yang tinggi dalam bahasa Inggris, matematika, sains, warganegara dan pemerintahan, ekonomi, seni, sejarah, dan geografi.
  3. Semua guru telah mempunyai kemampuan yang memadahi atau profesional
  4. Semua orang dewasa melek huruf dan mampu berkompetensi di dunia global
  5. Semua sekolah bebas dari narkoba
  6. Partisipasi orangtua dalam dunia pendidikan meningkat
Selain kedua langkah di atas, beberapa hal yang perlu dibenahi selanjutnya adalah dalam hal standar nasional dan kurikulum. Standar nasional yang dimaksud tentu saja dibarengi dengan kurikulum yang bermuatan lokal, sebab pada hakekatnya antara satu daerah dengan daerah yang lain seperti yang telah kita ketahui mempunyai keberagaman kebudayaan. Dalam mendesain suatu kurikulum juga hendaknya didasarkan atas 3 hal, yakni: subject design (berpusat pada mata pelajaran), learner centered (berpusat pada peserta didik), atau problem centered (berpusat pada masalah) yang secara tidak langsung telah tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jadi bagaimana baik dan tepatnya suatu desain kurikulum, tentu saja diserahkan langsung kepada guru yang bersangkutan. Sebab, bagaimanapun gurulah yang sedikit banyak mengetahui karakteristik peserta didiknya.
Pertanyaannya, sudah cukupkah beberapa faktor yang telah dipaparkan di atas untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia? Jawabannya tentu saja belum, penambahan beberapa faktor lagi pun belum tentu dapat mengangkat mutu pendidikan kita. Namun, setidaknya ada realisasi 20% dari APBN untuk pendidikan, sebab bagaimanapun pendanaan masih menjadi prioritas pertama dan utama dalam perbaikan suatu aspek termasuk di dalamnya pendidikan. Selain itu, sarana dan prasarana yang mendukung seperti perpustakaan dan sumber belajar lainnya juga harus tersedia lengkap.
Penulis mengetahui untuk dapat membangun suatu pendidikan ideal masa depan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi tanpa dukungn dari beberapa pihak –khususnya- yang bersangkutan. Namun, setidaknya apa yang penulis ungkapkan di atas mampu menjadi pandangan dalam membangun kembali dunia pendidikan kita yang telah lama terpuruk ini. Bagi penulis, tulisan ini merupakan langkah awal pertisipasinya dalam usaha memajukan mutu pendidikan di Indonesia. Semoga dalam perjalanannya penulis mampu konsisten terhadap apa yang telah menjadi harapan dan cita-citanya,,, Amiiin.