Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Bimbingan dan Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bimbingan dan Konseling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011

LATAR BELAKANG PENELITIAN

PENERAPAN STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMILIH STUDI LANJUT SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 MANYAR KABUPATEN GRESIK

Dian Triwahyuningsih

Bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), menamatkan pendidikan di SMA berarti memasuki suatu masa peralihan menuju sebuah wahana untuk membentuk integritas profesi yang didambakannya, yaitu pada perguruan tinggi. Tidak ada pola tertentu untuk menentukan tugas ataupun kewajiban yang harus dipenuhi siswa setelah lulus dari SMA, sebab siswa harus menentukan sendiri apa yang harus dilakukannya. 
Namun sangat disayangkan, bahwa masih banyak siswa atau lulusan SMA yang belum memiliki gambaran yang jelas tentang arah hidup yang akan ditempuhnya, atau paling tidak apa yang bisa dilakukan setelah lulus dari SMA. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian dan pemikiran yang cukup mendalam mengingat hal ini menyangkut penentu arah hidupnya di masa mendatang (Kansil dan Kansil, 1997:3)
Menentukan lanjutan studi bagi lulusan SMA bukanlah merupakan perkara yang mudah. Seperti yang dinyatakan oleh Gunawan (2001:31) bahwa: “pilihan untuk memasuki perguruan tinggi atau dengan kata lain melanjutkan studi atau pendidikan ke perguruan tinggi adalah salah satu persoalan yang sangat penting yang dihadapi oleh orang tua dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)”. Oleh sebab itu, sebelum membuat pilihan studi lanjut, siswa perlu membuat perencanaan yang matang atas beberapa informasi yang telah diperoleh. Sehingga pada akhirnya siswa mampu membuat keputusan yang tepat atas pilihan studi lanjut sesuai dengan keadaan diri dan lingkungannya, serta keputusan yang dibuat tersebut tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Manyar kabupaten Gresik, diperolah fakta bahwa terdapat sekitar 35% dari 319 siswa kelas XI yang masih mengalami kesulitan, kebingungan dan keragu-raguan dalam menentukan pilihan studi lanjut, termasuk pada jurusan dan perguruan tinggi mana yang akan menjadi pilihannya.
Kesulitan, kebingungan, dan keragu-raguan siswa dalam menentukan pilihan studi lanjut ini disebabkab oleh tiga hal. Pertama, kurangnya informasi yang relevan mengenai berbagai jurusan di perguruan tinggi beserta prospektusnya. Sebagian besar siswa hanya mengenal beberapa jurusan saja, akibatnya pilihan-pilihan yang akan dibuat pun terbatas. Ke dua, kurangnya pemahaman diri siswa sehingga mereka hanya ikut-ikutan teman, mengikuti keinginan orangtua, dan sekedar melihat tren tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Ke tiga, kurangnya kemampuan siswa untuk membuat, mempertimbangkan, dan menentukan satu dari beberapa alternatif yang telah diperoleh menjadi sebuah keputusan pilihan studi lanjut yang diinginkannya.   
Jika tetap dibiarkan, kondisi tersebut akan melahirkan berbagai implikasi langsung kepada diri para pelajar maupun implikasi tidak langsung kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa. Dampak kepada para pelajar sebagai implikasi dari perilaku tersebut di atas adalah rendahnya prestasi akademik. Sementara dampak kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa dari perilaku pelajar tersebut di atas adalah tingginya angka penggangguran terpelajar (student unemployment), serta rendahnya daya saing bangsa di tengah–tengah bangsa lain di dunia. (http: //karya-ilmiah.um.ac.id/ index.php/ BK-Psikologi/article/view/1171/)
Senada dengan pernyataan di atas, Winkel (2005:116) menyatakan bahwa: “Kekeliruan dalam memilih program studi di tingkat pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi dapat membawa akibat fatal bagi kehidupan seseorang.”
Selain itu, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan-detail. asp?id=507, dijelaskan bahwa kesalahan dalam proses memilih studi lanjut ini akan membawa beberapa dampak. Pertama, memilih jurusan sesuai dengan saran teman, mengikuti pilihan orang tua, atau hanya sekedar mengikuti tren akan membawa dampak terhadap turunnya motivasi belajar, daya tahan terhadap tekanan dan konsentrasi, serta daya juang dalam menghadapi perkuliahan yang semakin hari dirasa semakin sulit (Problem psikologis). Ke dua, kesalahan dalam memilih studi lanjut dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, kesulitan dalam memahami materi dan memecahkan persoalan, serta pencapaian prestasi yang tidak optimal, yang pada akhirnya menunjukkan pencapaian indeks prestasi yang rendah (Problem akademis). Ke tiga, ketidakmampuan dalam menguasai materi perkuliahan membawa dampak pada hasil yang tidak memuaskan akan membuat seseorang merasa rendah diri, sehingga membuat individu cenderung menjadi pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Bahkan sebaliknya, seseorang bisa menjadi agresif sebagai kompensasi dari inferioritas di perkuliahan, yang diwujudkan dengan sikap mendominasi atau mengintimidasi orang yang dianggap lebih pandai dari dirinya (Problem relasional).
Melihat hal yang demikian itu, guru BK di sekolah tersebut telah berupaya menangani permasalahan menyangkut pilihan studi lanjut ini dengan memberikan beberapa informasi terkait dengan dunia perguruan tinggi. Informasi yang diberikan meliputi persyaratan masuk perguruan tinggi, biaya yang dibutuhkan, fasilitas, gambaran umum jurusan/ prodi, status perguruan tinggi, prospek kerja, cara penyeleksian masuk perguruan tinggi, dan informasi-informasi lain yang diperoleh melalui buku sumber dan dari brosur berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Dari penanganan tersebut, ternyata tidak sepenuhnya efektif membantu siswa dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut. Memperoleh dan mengolah berbagai informasi yang didapat baik mengenai diri dan lingkungan siswa, sangat diperlukan dalam menentukan pilihan studi lanjut. Namun demikian, membuat suatu keputusan tanpa desertai dengan perencanaan yang matang atas beberapa alternatif tindakan tidak akan menghasilkan keputusan yang baik.   
Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan adanya suatu strategi dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan pilihan studi lanjut siswa. Pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat (Siagian, 1984:83)
Mengambil keputusan adalah suatu keterampilan, yang dapat dipelajari, dimodifikasi, dan proses konseling menyajikan suatu situasi yang ideal bagi konselor untuk membantu klien mengambil keputusan (Nursalim, dkk. 2005:135). Oleh sebab itu, dengan penerapan strategi pengambilan keputusan ini diharapkan mampu membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut.
Mengacu pada uraian di atas, maka perlu untuk dilakukan penelitian tentang “Penerapan Strategi Pengambilan Keputusan untuk Meningkatkan Kemampuan Memilih Studi Lanjut Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik”




Sabtu, 05 Februari 2011

HOW TO PREDICT OUR CARIER?? Imitate to Roe’s Personality Development Theory

Pekerjaan, begitu biasanya orang pada umumnya mengartikan karir. Merupakan satu dari banyak aspek penentu kepuasan pribadi seseorang, yakni kesesuaian antara atribusi yang disumbangkan dengan hasil yang didapatkan. Kepuasan kerja mungkin relatif bagi sebagian orang, namun demikian pekerjaan merupakan sebuah hal yang sangat eksistensial sebab pekerjaan sangat berhubungan dengan status, identitas, standar hidup, juga kepuasan. Secara psikologis, pekerjaan adalah suatu potensi pemenuhan kebutuhan, kesejahteraan, dan pemberi makna hidup bagi seseorang. Sebenarnya, orang yang tidak bekerja atau pensiun cenderung lebih mengeluh bahwa mereka kehilangan hormat dan makna dalam hidup mereka daripada mengeluh karena kehilangan sumber pendapatan. Karena itu dapat dikatakan, pekerjaan itu sangat penting bagi seseorang, karena dengan pekerjaan seseorang dapat menemukan diri dalam keberagaman dinamika kehidupan, sedangkan hilangnya pekerjaan dapat menyebabkan ketidakbahagiaan.
Terdapat banyak sekali asumsi yang telah dihasilkan dari tokoh-tokoh perkembangan karir tentang pilihan karir seseorang, beberapa dari asumsi tersebut diantaranya: bahwa pemilihan karir didasarkan pada kematangan/ kemampuan seseorang pada setiap tahapan perkembangan (Norris), pengambilan keputusan pilihan karir didasarkan pada periode antisipasi dan periode implementasi yang dilalui (Tiedeman), manusia memiliki karakter -minat, bakat, dan inteligensi- yang stabil dan relatif tidak berubah (Parson), pemilihan karir ditentukan dengan melihat konsep diri (Super), seseorang dengan kepribadian bawaannya ditarik dan dicocokkan pada pekerjaan sesuai dengan karakteristik-karakteristik tertentu (Holland), proses pilihan karir didasarkan atas peristiwa-peristiwa kehidupan khususnya peristiwa yang memiliki pengaruh kuat terhadap pilihan karir (Krumboltz), pemilihan karir didasarkan pada pendekatan psikologis atas tugas-tugas perkembangan yang dilaluinya (Ginzberg), dan masih banyak lagi asumsi dari tokoh-tokoh perkembangan karir lainnya. Sedangkan Anna Roe mengembangkan teori untuk memprediksi pilihan karir dari sudut pandang perbedaan individu secara biologis, sosiologis dan psikologis. Lebih khususnya, Roe memfokuskan perkiraan pemilihan karir berdasarkan kebutuhan psikologis yang berkembang dari interaksi antara anak dan orangtua.
Teori perkembangan karir dari Roe ini sangat luas, tidak hanya didasarkan pada hirarki kebutuhan dari Maslow -kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan dicintai, harga diri, informasi, mamahami dan dipahami, keindahan, serta aktualisasi diri- saja, melainkan didasarkan juga atas beberapa proposisi, yaitu pertama, Roe percaya bahwa intelegensi dan tempramen lebih ditentukan oleh faktor genetik daripada minat dan sikap. Secara umum, minat dan sikap dapat dipelajari dengan dimulai pada usia sedini mungkin, sedangkan intelegensi dan tempramen hanya berkembang dari faktor genetik (Limits of genetic inheritance). Kedua, Roe menemukan banyak sekali keterbatasan seperti keterbatasan ekonomi, gender, dan kultur sosial masyarakat. Contohnya: seseorang yang berasal dari keluarga miskin tentu saja tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa belajar seperti seseorang yang berasal dari keluarga yang lebih kaya, atau seseorang yang berasal dari desa memiliki kesempatan pemilihan pekerjaan yang lebih terbatas dibandingkan dengan seseorang yang hidup di kota (Limits of sociological and economic factors). Ketiga, perkembangan dari kecenderungan genetik minat dan sikap merupakan aspek penting dalam teori perkembangan karir Roe. Minat dan sikap tersebut merupakan suatu hal yang tanpa sengaja, artinya seseorang tidak bisa memilih orangtua, guru, atau beberapa situasi yang mereka inginkan. Namun, Roe lebih menekankan bahwa kepuasan atau tingkat frustasi seseorang itu ditentukan dari bagaimana kebutuhan mereka bisa terpenuhi atau tidak (Development of interest and attitudes). Keempat, minat ditentukan dari seberapa besar tingkat kebutuhan, sebagai contoh: siswa yang ingin mengetahui banyak hal tentang mata sangat berharap gurunya bisa memberikan informasi yang dibutuhkan tersebut -sebagai bentuk rangasangan minat-, namun jika siswa merasa kecewa karena kurangnya informasi atau tidak mampu untuk lebih memahami, maka aktifitasnya juga tidak akan berkembang -sebagai bentuk minat- (Determinants of interests). Kelima, lebih hebatnya lagi jika pemenuhan kebutuhan tersebut mampu membawa kesuksesan. Jika kebutuhan siswa untuk informasi dan pengetahuan tentang mata terpenuhi, maka siswa akan belajar tentang mata dengan lebih giat lagi, sebagai hadiahnya siswa tersebut dicintai, dihormati, dan diterima. Mendapat pujian dari orangtua dan gurunya pun memberikan rangking tertinggi, yang pada intinya perlu adanya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai motivator (Development of needs into motivators).
Roe berpendapat bahwa frustasi atau ketidakpuasan yang dialami pada masa kanak-kanak, akan dapat dipuaskan melalui pekerjaan seseorang dengan pilihan orientasi yang mengarah pada orang lain -berhubungan dengan manusia- atau bukan mengarah pada orang lain -berhubungan dengan benda-. Berbagai variasi sikap orangtua terhadap anak, seperti pola pengasuhan yang berpusat pada anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang overprotective atau terlalu menuntut (Concentration on the child), pola pengasuhan penolakan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang selalu menolak dan mengabaikan (Avoidance of the child), dan pola pengasuhan penerimaan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang mencintai dan menerima anak apa adanya (Acceptance of the child) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah pilihan karir anak pada masa yang akan datang. Seseorang yang menentukan pilihan karirnya dengan memilih untuk bekerja/ berinteraksi bersama orang lain menurut Roe disebabkan oleh kehangatan dan penerimaan dari orangtua yang telah ia dapatkan pada masa kanak-kanak, sebaliknya seseorang yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang menolak atau mengabaikan -acuh- akan cenderung memilih pekerjaan yang sedikit sekali membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Berdasarkan uraian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir menurut Roe di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini bertujuan untuk penciptaan kondisi agar seseorang mampu memilih pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan, melalui interaksi orangtua-anak atau pola asuh orangtua dalam keluarga. Dalam arti lain, sebenarnya orangtua bisa membuat prediksi tentang pilihan karir dari anak-anaknya. Dengan menciptakan iklim yang penuh penerimaan yang hangat dan cinta kasih dalam keluarga, menurut Roe sama halnya dengan mempersiapkan karir anak untuk lebih tertarik pada bidang-bidang karir/ pekerjaan yang bersifat memberikan pelayanan atau pekerjaan yang membutuhkan interaksi sosial yang cukup tinggi. Berbeda dengan anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang penuh penolakan atau pengabaian -acuh-, maka ia akan lebih cenderung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan mesin atau mekanik dan tidak banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Oleh sebab itu, bimbingan dan konseling menyediakan ruang bagi terciptanya kesesuaian antara kebutuhan dengan pemenuhan kepuasan akan pekerjaan seseorang. Tentu saja dengan didasarkan pada aspek biologis, sosiologis, dan psikologis yang telah diutarakan oleh Roe dalam beberapa uraian di atas. Sehingga dengan menggunakan sistem klasifikasi 48 jenis pekerjaan yang terbagi dalam 8 kelompok dan 6 level pekerjaan, konselor dapat mengatur informasi tentang karier ketika berbicara dengan klien tentang pilihan karirnya.

Minggu, 31 Januari 2010

TIPS dalam PERSAHABATAN


Bismillah..
Tiba2 saya pengen nulis tentang ini. Sekalipun yang saya tulis ini bukan merupakan sebuah teori psikologi, tapi saya mencoba ngasi tips sebisa saya, dari beberapa literatur dan pengalaman saya tentang persahabatan yang saya jalani dari mule lahir sampe oma2 begini..(he8..)
Persahabatan biasa orang artikan dengan ikatan yang mengikat lebih dari dua orang sahabat yang bisa terbentuk karena adanya persamaan diantara mereka. Coba inget kembali dech, persamaan apa aja yang telah membuat kalian memilih temen2 kamu sebagai sahabat… karena sama-sama cantik? Sama-sama pinter? Punya kesukaan ato hobi yang sama? Ato sama suka jahilin temen? Huehehe… itu semua hanya kalian yang tahu. Bener gak??
1. Pikirkanlah apa yang dapat kamu berikan kepada sahabatmu bukan apa yang dapat kamu peroleh dari persahabatan. Hargailah sahabatmu seperti kamu ingin dihargai.
2. Dukunglah sahabatmu. Sahabat sejati selalu saling menyemangati dan ‘mendorong’ supaya mereka bersama-sama dapat menjadi yang terbaik bukannya saling menjatuhkan. Turut berbahagia ketika sahabatnya berhasil dan tidak merasa tersaingi.
3. Bersedia untuk memaafkan Jangan biarkan ‘luka’ berkembang menjadi kepahitan karena hal ini akan menghancurkan persahabatan yang ada.
4. Jangan memandang kesalahan yang dibuatnya, Bersabarlah dan tuntunlah dia untuk berubah. Sadarilah bahwa tidak ada orang yang sempurna.
5. Jadilah sahabat yang dapat diandalkan dan tepatilah janji yang telah kamu ucapkan.
6. Jangan mencoba untuk mengontrol sahabatmu. Bersahabat bukan berarti harus selalu bersama-sama. Memang akan sangat menyenangkan bila dapat selalu bersama dengan orang yang kita kasihi. Namun ingat, jangan merasa dikhianati ketika temanmu bergaul dengan yang lain, sebaliknya usahakan kamu juga dapat berteman dengan mereka. Hal ini akan membuat kita dan sahabat kita lebih menghargai satu sama lain.
7. Selalu ada disaat senang maupun susah. Yang paling dibutuhkan dari seorang sahabat adalah sepasang telinga yang simpatik dan yang mau memahami perasaan mereka.
8. Menerima apa adanya sahabatmu Jangan menuntut sahabat kita untuk bereaksi dengan cara yang sama seperti yang biasa kita lakukan. Hargailah dia apa adanya termasuk juga keputusan yang dia ambil yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak kita.
9. Jangan jadi ‘Ember’ (mulut bocor). Belajarlah untuk menjaga rahasia sahabatmu.
10. Jangan biarkan perbedaan pendapat menghancurkan persahabatan. Bila itu terjadi, jangan terus berdebat yang hanya akan membuat kamu dongkol. Lepaskan hasrat untuk menang sendiri daripada persahabatanmu rusak karenanya.
MENGAKHIRI PERSAHABATAN...
Kenapa harus berakhir? Bukan itu maksud saya. Cuma inget aja 2, 3, 4 ato 6 tahun kita bakal terpisah fisik dengan mereka, mungkin. Nah, mengakhiri persahabatan disini maksudnya itu memberi kesan pada akhir perjumpaan kita saat itu.

1. Hidupkan interaksimu. Lebih hidup!
Inget lagunya S07 yang ” Kisah klasik untuk masa depan”, kan? Coba dengungin lirik lagunya… ya, kurang lebih begitu. Ungkapkan perasaan n pikiran kamu ttg sahabatmu itu. Yang serius bole, yang konyol bole, yang bercandaan bole, yang aneh boleh, yang ga biasa juga boleh. Pokoknya nikmatin pertemuanmu.. Cuma kamu yang ngerti gimanya ’menciptakan’ suasana..

2. Jalin komunikasi
jangan kuno!!! Komunikasi nggak harus tatap muka secara langsung... ni jaman modern. Banyak sekali cara untuk tetep menjalin komunikasi dengan teman-temanmu.. mulai dari SMS, e-mail, blog, friendster n facebook
. Makanya, pas telekomunikasi lagi enak2nya, praktis, cepet, efektif.. ga ada alasan buat kita untuk ga nyapa mereka, ga menanyakan kabar kehidupan mereka.. biar persahabatan kita bukan persahabatan musiman. Biar ga cuma pas lagi musim deket-deketnya, pas lagi musim ada perlunya, pas lagi musim ada maunya, tapi persahabatan untuk semua musim...
Eh, sekian dulu ya..
Satu kata bijak nih, dari Rasulullah :

 ”Sebaik-baik saudara adalah yang ketika kamu melihatnya, maka kamu mengingat penciptanya.”
So, gimana pengalaman persahabatanmu??…

“diantri”

Tulisan ini merupakan pengalaman pertama penulis dalam membuat sebuah materi singkat Bimbingan dan Konseling yang disampaikan melalui media pamflet. Disajikan ketika penulis melaksanakan program Praktek Pengalaman Lapangan II (PPL II) di SMA Negeri 1 Manyar Gresik. (September 2009)