Cari Blog Ini

Sabtu, 05 Februari 2011

HOW TO PREDICT OUR CARIER?? Imitate to Roe’s Personality Development Theory

Pekerjaan, begitu biasanya orang pada umumnya mengartikan karir. Merupakan satu dari banyak aspek penentu kepuasan pribadi seseorang, yakni kesesuaian antara atribusi yang disumbangkan dengan hasil yang didapatkan. Kepuasan kerja mungkin relatif bagi sebagian orang, namun demikian pekerjaan merupakan sebuah hal yang sangat eksistensial sebab pekerjaan sangat berhubungan dengan status, identitas, standar hidup, juga kepuasan. Secara psikologis, pekerjaan adalah suatu potensi pemenuhan kebutuhan, kesejahteraan, dan pemberi makna hidup bagi seseorang. Sebenarnya, orang yang tidak bekerja atau pensiun cenderung lebih mengeluh bahwa mereka kehilangan hormat dan makna dalam hidup mereka daripada mengeluh karena kehilangan sumber pendapatan. Karena itu dapat dikatakan, pekerjaan itu sangat penting bagi seseorang, karena dengan pekerjaan seseorang dapat menemukan diri dalam keberagaman dinamika kehidupan, sedangkan hilangnya pekerjaan dapat menyebabkan ketidakbahagiaan.
Terdapat banyak sekali asumsi yang telah dihasilkan dari tokoh-tokoh perkembangan karir tentang pilihan karir seseorang, beberapa dari asumsi tersebut diantaranya: bahwa pemilihan karir didasarkan pada kematangan/ kemampuan seseorang pada setiap tahapan perkembangan (Norris), pengambilan keputusan pilihan karir didasarkan pada periode antisipasi dan periode implementasi yang dilalui (Tiedeman), manusia memiliki karakter -minat, bakat, dan inteligensi- yang stabil dan relatif tidak berubah (Parson), pemilihan karir ditentukan dengan melihat konsep diri (Super), seseorang dengan kepribadian bawaannya ditarik dan dicocokkan pada pekerjaan sesuai dengan karakteristik-karakteristik tertentu (Holland), proses pilihan karir didasarkan atas peristiwa-peristiwa kehidupan khususnya peristiwa yang memiliki pengaruh kuat terhadap pilihan karir (Krumboltz), pemilihan karir didasarkan pada pendekatan psikologis atas tugas-tugas perkembangan yang dilaluinya (Ginzberg), dan masih banyak lagi asumsi dari tokoh-tokoh perkembangan karir lainnya. Sedangkan Anna Roe mengembangkan teori untuk memprediksi pilihan karir dari sudut pandang perbedaan individu secara biologis, sosiologis dan psikologis. Lebih khususnya, Roe memfokuskan perkiraan pemilihan karir berdasarkan kebutuhan psikologis yang berkembang dari interaksi antara anak dan orangtua.
Teori perkembangan karir dari Roe ini sangat luas, tidak hanya didasarkan pada hirarki kebutuhan dari Maslow -kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan dicintai, harga diri, informasi, mamahami dan dipahami, keindahan, serta aktualisasi diri- saja, melainkan didasarkan juga atas beberapa proposisi, yaitu pertama, Roe percaya bahwa intelegensi dan tempramen lebih ditentukan oleh faktor genetik daripada minat dan sikap. Secara umum, minat dan sikap dapat dipelajari dengan dimulai pada usia sedini mungkin, sedangkan intelegensi dan tempramen hanya berkembang dari faktor genetik (Limits of genetic inheritance). Kedua, Roe menemukan banyak sekali keterbatasan seperti keterbatasan ekonomi, gender, dan kultur sosial masyarakat. Contohnya: seseorang yang berasal dari keluarga miskin tentu saja tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa belajar seperti seseorang yang berasal dari keluarga yang lebih kaya, atau seseorang yang berasal dari desa memiliki kesempatan pemilihan pekerjaan yang lebih terbatas dibandingkan dengan seseorang yang hidup di kota (Limits of sociological and economic factors). Ketiga, perkembangan dari kecenderungan genetik minat dan sikap merupakan aspek penting dalam teori perkembangan karir Roe. Minat dan sikap tersebut merupakan suatu hal yang tanpa sengaja, artinya seseorang tidak bisa memilih orangtua, guru, atau beberapa situasi yang mereka inginkan. Namun, Roe lebih menekankan bahwa kepuasan atau tingkat frustasi seseorang itu ditentukan dari bagaimana kebutuhan mereka bisa terpenuhi atau tidak (Development of interest and attitudes). Keempat, minat ditentukan dari seberapa besar tingkat kebutuhan, sebagai contoh: siswa yang ingin mengetahui banyak hal tentang mata sangat berharap gurunya bisa memberikan informasi yang dibutuhkan tersebut -sebagai bentuk rangasangan minat-, namun jika siswa merasa kecewa karena kurangnya informasi atau tidak mampu untuk lebih memahami, maka aktifitasnya juga tidak akan berkembang -sebagai bentuk minat- (Determinants of interests). Kelima, lebih hebatnya lagi jika pemenuhan kebutuhan tersebut mampu membawa kesuksesan. Jika kebutuhan siswa untuk informasi dan pengetahuan tentang mata terpenuhi, maka siswa akan belajar tentang mata dengan lebih giat lagi, sebagai hadiahnya siswa tersebut dicintai, dihormati, dan diterima. Mendapat pujian dari orangtua dan gurunya pun memberikan rangking tertinggi, yang pada intinya perlu adanya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai motivator (Development of needs into motivators).
Roe berpendapat bahwa frustasi atau ketidakpuasan yang dialami pada masa kanak-kanak, akan dapat dipuaskan melalui pekerjaan seseorang dengan pilihan orientasi yang mengarah pada orang lain -berhubungan dengan manusia- atau bukan mengarah pada orang lain -berhubungan dengan benda-. Berbagai variasi sikap orangtua terhadap anak, seperti pola pengasuhan yang berpusat pada anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang overprotective atau terlalu menuntut (Concentration on the child), pola pengasuhan penolakan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang selalu menolak dan mengabaikan (Avoidance of the child), dan pola pengasuhan penerimaan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang mencintai dan menerima anak apa adanya (Acceptance of the child) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah pilihan karir anak pada masa yang akan datang. Seseorang yang menentukan pilihan karirnya dengan memilih untuk bekerja/ berinteraksi bersama orang lain menurut Roe disebabkan oleh kehangatan dan penerimaan dari orangtua yang telah ia dapatkan pada masa kanak-kanak, sebaliknya seseorang yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang menolak atau mengabaikan -acuh- akan cenderung memilih pekerjaan yang sedikit sekali membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Berdasarkan uraian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir menurut Roe di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini bertujuan untuk penciptaan kondisi agar seseorang mampu memilih pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan, melalui interaksi orangtua-anak atau pola asuh orangtua dalam keluarga. Dalam arti lain, sebenarnya orangtua bisa membuat prediksi tentang pilihan karir dari anak-anaknya. Dengan menciptakan iklim yang penuh penerimaan yang hangat dan cinta kasih dalam keluarga, menurut Roe sama halnya dengan mempersiapkan karir anak untuk lebih tertarik pada bidang-bidang karir/ pekerjaan yang bersifat memberikan pelayanan atau pekerjaan yang membutuhkan interaksi sosial yang cukup tinggi. Berbeda dengan anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang penuh penolakan atau pengabaian -acuh-, maka ia akan lebih cenderung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan mesin atau mekanik dan tidak banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Oleh sebab itu, bimbingan dan konseling menyediakan ruang bagi terciptanya kesesuaian antara kebutuhan dengan pemenuhan kepuasan akan pekerjaan seseorang. Tentu saja dengan didasarkan pada aspek biologis, sosiologis, dan psikologis yang telah diutarakan oleh Roe dalam beberapa uraian di atas. Sehingga dengan menggunakan sistem klasifikasi 48 jenis pekerjaan yang terbagi dalam 8 kelompok dan 6 level pekerjaan, konselor dapat mengatur informasi tentang karier ketika berbicara dengan klien tentang pilihan karirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar