PENERAPAN STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMILIH STUDI LANJUT SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 MANYAR KABUPATEN GRESIK
Dian Triwahyuningsih
Bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), menamatkan pendidikan di SMA berarti memasuki suatu masa peralihan menuju sebuah wahana untuk membentuk integritas profesi yang didambakannya, yaitu pada perguruan tinggi. Tidak ada pola tertentu untuk menentukan tugas ataupun kewajiban yang harus dipenuhi siswa setelah lulus dari SMA, sebab siswa harus menentukan sendiri apa yang harus dilakukannya.
Namun sangat disayangkan, bahwa masih banyak siswa atau lulusan SMA yang belum memiliki gambaran yang jelas tentang arah hidup yang akan ditempuhnya, atau paling tidak apa yang bisa dilakukan setelah lulus dari SMA. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian dan pemikiran yang cukup mendalam mengingat hal ini menyangkut penentu arah hidupnya di masa mendatang (Kansil dan Kansil, 1997:3)
Menentukan lanjutan studi bagi lulusan SMA bukanlah merupakan perkara yang mudah. Seperti yang dinyatakan oleh Gunawan (2001:31) bahwa: “pilihan untuk memasuki perguruan tinggi atau dengan kata lain melanjutkan studi atau pendidikan ke perguruan tinggi adalah salah satu persoalan yang sangat penting yang dihadapi oleh orang tua dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)”. Oleh sebab itu, sebelum membuat pilihan studi lanjut, siswa perlu membuat perencanaan yang matang atas beberapa informasi yang telah diperoleh. Sehingga pada akhirnya siswa mampu membuat keputusan yang tepat atas pilihan studi lanjut sesuai dengan keadaan diri dan lingkungannya, serta keputusan yang dibuat tersebut tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Manyar kabupaten Gresik, diperolah fakta bahwa terdapat sekitar 35% dari 319 siswa kelas XI yang masih mengalami kesulitan, kebingungan dan keragu-raguan dalam menentukan pilihan studi lanjut, termasuk pada jurusan dan perguruan tinggi mana yang akan menjadi pilihannya.
Kesulitan, kebingungan, dan keragu-raguan siswa dalam menentukan pilihan studi lanjut ini disebabkab oleh tiga hal. Pertama, kurangnya informasi yang relevan mengenai berbagai jurusan di perguruan tinggi beserta prospektusnya. Sebagian besar siswa hanya mengenal beberapa jurusan saja, akibatnya pilihan-pilihan yang akan dibuat pun terbatas. Ke dua, kurangnya pemahaman diri siswa sehingga mereka hanya ikut-ikutan teman, mengikuti keinginan orangtua, dan sekedar melihat tren tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Ke tiga, kurangnya kemampuan siswa untuk membuat, mempertimbangkan, dan menentukan satu dari beberapa alternatif yang telah diperoleh menjadi sebuah keputusan pilihan studi lanjut yang diinginkannya.
Jika tetap dibiarkan, kondisi tersebut akan melahirkan berbagai implikasi langsung kepada diri para pelajar maupun implikasi tidak langsung kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa. Dampak kepada para pelajar sebagai implikasi dari perilaku tersebut di atas adalah rendahnya prestasi akademik. Sementara dampak kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa dari perilaku pelajar tersebut di atas adalah tingginya angka penggangguran terpelajar (student unemployment), serta rendahnya daya saing bangsa di tengah–tengah bangsa lain di dunia. (http: //karya-ilmiah.um.ac.id/ index.php/ BK-Psikologi/article/view/1171/)
Senada dengan pernyataan di atas, Winkel (2005:116) menyatakan bahwa: “Kekeliruan dalam memilih program studi di tingkat pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi dapat membawa akibat fatal bagi kehidupan seseorang.”
Selain itu, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan-detail. asp?id=507, dijelaskan bahwa kesalahan dalam proses memilih studi lanjut ini akan membawa beberapa dampak. Pertama, memilih jurusan sesuai dengan saran teman, mengikuti pilihan orang tua, atau hanya sekedar mengikuti tren akan membawa dampak terhadap turunnya motivasi belajar, daya tahan terhadap tekanan dan konsentrasi, serta daya juang dalam menghadapi perkuliahan yang semakin hari dirasa semakin sulit (Problem psikologis). Ke dua, kesalahan dalam memilih studi lanjut dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, kesulitan dalam memahami materi dan memecahkan persoalan, serta pencapaian prestasi yang tidak optimal, yang pada akhirnya menunjukkan pencapaian indeks prestasi yang rendah (Problem akademis). Ke tiga, ketidakmampuan dalam menguasai materi perkuliahan membawa dampak pada hasil yang tidak memuaskan akan membuat seseorang merasa rendah diri, sehingga membuat individu cenderung menjadi pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Bahkan sebaliknya, seseorang bisa menjadi agresif sebagai kompensasi dari inferioritas di perkuliahan, yang diwujudkan dengan sikap mendominasi atau mengintimidasi orang yang dianggap lebih pandai dari dirinya (Problem relasional).
Melihat hal yang demikian itu, guru BK di sekolah tersebut telah berupaya menangani permasalahan menyangkut pilihan studi lanjut ini dengan memberikan beberapa informasi terkait dengan dunia perguruan tinggi. Informasi yang diberikan meliputi persyaratan masuk perguruan tinggi, biaya yang dibutuhkan, fasilitas, gambaran umum jurusan/ prodi, status perguruan tinggi, prospek kerja, cara penyeleksian masuk perguruan tinggi, dan informasi-informasi lain yang diperoleh melalui buku sumber dan dari brosur berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Dari penanganan tersebut, ternyata tidak sepenuhnya efektif membantu siswa dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut. Memperoleh dan mengolah berbagai informasi yang didapat baik mengenai diri dan lingkungan siswa, sangat diperlukan dalam menentukan pilihan studi lanjut. Namun demikian, membuat suatu keputusan tanpa desertai dengan perencanaan yang matang atas beberapa alternatif tindakan tidak akan menghasilkan keputusan yang baik.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan adanya suatu strategi dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan pilihan studi lanjut siswa. Pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat (Siagian, 1984:83)
Mengambil keputusan adalah suatu keterampilan, yang dapat dipelajari, dimodifikasi, dan proses konseling menyajikan suatu situasi yang ideal bagi konselor untuk membantu klien mengambil keputusan (Nursalim, dkk. 2005:135). Oleh sebab itu, dengan penerapan strategi pengambilan keputusan ini diharapkan mampu membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut.
Mengacu pada uraian di atas, maka perlu untuk dilakukan penelitian tentang “Penerapan Strategi Pengambilan Keputusan untuk Meningkatkan Kemampuan Memilih Studi Lanjut Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar