Cari Blog Ini

Sabtu, 20 Agustus 2011

LATAR BELAKANG PENELITIAN

PENERAPAN STRATEGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMILIH STUDI LANJUT SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 MANYAR KABUPATEN GRESIK

Dian Triwahyuningsih

Bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), menamatkan pendidikan di SMA berarti memasuki suatu masa peralihan menuju sebuah wahana untuk membentuk integritas profesi yang didambakannya, yaitu pada perguruan tinggi. Tidak ada pola tertentu untuk menentukan tugas ataupun kewajiban yang harus dipenuhi siswa setelah lulus dari SMA, sebab siswa harus menentukan sendiri apa yang harus dilakukannya. 
Namun sangat disayangkan, bahwa masih banyak siswa atau lulusan SMA yang belum memiliki gambaran yang jelas tentang arah hidup yang akan ditempuhnya, atau paling tidak apa yang bisa dilakukan setelah lulus dari SMA. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian dan pemikiran yang cukup mendalam mengingat hal ini menyangkut penentu arah hidupnya di masa mendatang (Kansil dan Kansil, 1997:3)
Menentukan lanjutan studi bagi lulusan SMA bukanlah merupakan perkara yang mudah. Seperti yang dinyatakan oleh Gunawan (2001:31) bahwa: “pilihan untuk memasuki perguruan tinggi atau dengan kata lain melanjutkan studi atau pendidikan ke perguruan tinggi adalah salah satu persoalan yang sangat penting yang dihadapi oleh orang tua dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)”. Oleh sebab itu, sebelum membuat pilihan studi lanjut, siswa perlu membuat perencanaan yang matang atas beberapa informasi yang telah diperoleh. Sehingga pada akhirnya siswa mampu membuat keputusan yang tepat atas pilihan studi lanjut sesuai dengan keadaan diri dan lingkungannya, serta keputusan yang dibuat tersebut tidak menimbulkan penyesalan dikemudian hari.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SMA Negeri 1 Manyar kabupaten Gresik, diperolah fakta bahwa terdapat sekitar 35% dari 319 siswa kelas XI yang masih mengalami kesulitan, kebingungan dan keragu-raguan dalam menentukan pilihan studi lanjut, termasuk pada jurusan dan perguruan tinggi mana yang akan menjadi pilihannya.
Kesulitan, kebingungan, dan keragu-raguan siswa dalam menentukan pilihan studi lanjut ini disebabkab oleh tiga hal. Pertama, kurangnya informasi yang relevan mengenai berbagai jurusan di perguruan tinggi beserta prospektusnya. Sebagian besar siswa hanya mengenal beberapa jurusan saja, akibatnya pilihan-pilihan yang akan dibuat pun terbatas. Ke dua, kurangnya pemahaman diri siswa sehingga mereka hanya ikut-ikutan teman, mengikuti keinginan orangtua, dan sekedar melihat tren tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya diinginkan. Ke tiga, kurangnya kemampuan siswa untuk membuat, mempertimbangkan, dan menentukan satu dari beberapa alternatif yang telah diperoleh menjadi sebuah keputusan pilihan studi lanjut yang diinginkannya.   
Jika tetap dibiarkan, kondisi tersebut akan melahirkan berbagai implikasi langsung kepada diri para pelajar maupun implikasi tidak langsung kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa. Dampak kepada para pelajar sebagai implikasi dari perilaku tersebut di atas adalah rendahnya prestasi akademik. Sementara dampak kepada lingkungan sosial dan budaya bangsa dari perilaku pelajar tersebut di atas adalah tingginya angka penggangguran terpelajar (student unemployment), serta rendahnya daya saing bangsa di tengah–tengah bangsa lain di dunia. (http: //karya-ilmiah.um.ac.id/ index.php/ BK-Psikologi/article/view/1171/)
Senada dengan pernyataan di atas, Winkel (2005:116) menyatakan bahwa: “Kekeliruan dalam memilih program studi di tingkat pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi dapat membawa akibat fatal bagi kehidupan seseorang.”
Selain itu, dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan-detail. asp?id=507, dijelaskan bahwa kesalahan dalam proses memilih studi lanjut ini akan membawa beberapa dampak. Pertama, memilih jurusan sesuai dengan saran teman, mengikuti pilihan orang tua, atau hanya sekedar mengikuti tren akan membawa dampak terhadap turunnya motivasi belajar, daya tahan terhadap tekanan dan konsentrasi, serta daya juang dalam menghadapi perkuliahan yang semakin hari dirasa semakin sulit (Problem psikologis). Ke dua, kesalahan dalam memilih studi lanjut dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk mandiri dalam belajar, kesulitan dalam memahami materi dan memecahkan persoalan, serta pencapaian prestasi yang tidak optimal, yang pada akhirnya menunjukkan pencapaian indeks prestasi yang rendah (Problem akademis). Ke tiga, ketidakmampuan dalam menguasai materi perkuliahan membawa dampak pada hasil yang tidak memuaskan akan membuat seseorang merasa rendah diri, sehingga membuat individu cenderung menjadi pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Bahkan sebaliknya, seseorang bisa menjadi agresif sebagai kompensasi dari inferioritas di perkuliahan, yang diwujudkan dengan sikap mendominasi atau mengintimidasi orang yang dianggap lebih pandai dari dirinya (Problem relasional).
Melihat hal yang demikian itu, guru BK di sekolah tersebut telah berupaya menangani permasalahan menyangkut pilihan studi lanjut ini dengan memberikan beberapa informasi terkait dengan dunia perguruan tinggi. Informasi yang diberikan meliputi persyaratan masuk perguruan tinggi, biaya yang dibutuhkan, fasilitas, gambaran umum jurusan/ prodi, status perguruan tinggi, prospek kerja, cara penyeleksian masuk perguruan tinggi, dan informasi-informasi lain yang diperoleh melalui buku sumber dan dari brosur berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Dari penanganan tersebut, ternyata tidak sepenuhnya efektif membantu siswa dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut. Memperoleh dan mengolah berbagai informasi yang didapat baik mengenai diri dan lingkungan siswa, sangat diperlukan dalam menentukan pilihan studi lanjut. Namun demikian, membuat suatu keputusan tanpa desertai dengan perencanaan yang matang atas beberapa alternatif tindakan tidak akan menghasilkan keputusan yang baik.   
Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan adanya suatu strategi dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan pilihan studi lanjut siswa. Pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat (Siagian, 1984:83)
Mengambil keputusan adalah suatu keterampilan, yang dapat dipelajari, dimodifikasi, dan proses konseling menyajikan suatu situasi yang ideal bagi konselor untuk membantu klien mengambil keputusan (Nursalim, dkk. 2005:135). Oleh sebab itu, dengan penerapan strategi pengambilan keputusan ini diharapkan mampu membantu siswa dalam meningkatkan kemampuannya dalam membuat keputusan pilihan studi lanjut.
Mengacu pada uraian di atas, maka perlu untuk dilakukan penelitian tentang “Penerapan Strategi Pengambilan Keputusan untuk Meningkatkan Kemampuan Memilih Studi Lanjut Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik”




Jumat, 19 Agustus 2011

Ingatkan Diri, Saat Ada Saat Hilang


(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. 57:23)

Sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Alloh. Sebaliknya, sesuatu yang buruk menurut kita juga belum tentu buruk menurut Alloh. Maka apakah ada jalan yang lebih baik dari mensyukuri, bersabar dan mengikhlaskan diri menerima semua takdirNya? Karena sabar tanpa syukur hanya akan melahirkan keluhan-keluhan baru, sedangkan ikhlas tanpa sabar adalah sia-sia.

Tentu saja kita pernah memiliki, juga pernah merasa kehilangan. Apapun itu. Namun masalahnya, perasaan kita terlalu sering untuk tidak peka atas segala nikmat yang “ada”. Kita larut dengan perasaan bahagia kita, perasaan senang kita, hingga melupakan kewajiban untuk bersyukur. Sebaliknya, perasaan kita menjadi sangat peka ketika sesuatu yang kita miliki telah “hilang” dari genggaman kita. Kita lupa bahwa semua hanya titipan Alloh, kita lupa bahwa semua hanya pinjaman, kita lupa bahwa kita sedang diuji, bahkan kita juga lupa bahwa tidak selamanya kita bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan -tentu saja semua atas izin Nya-. Setelah itu, tidak banyak yang bisa kita lakukan selain mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Itulah sebabnya mengapa kita lebih sering mengeluh daripada bersyukur.  

Kalau kita sudah tahu bahwa semua hanya titipan Alloh, Alloh hanya ingin menguji kita, kita juga percaya bahwa Alloh adalah sebaik-baiknya pengatur, lantas mengapa kita harus bersedih, harus terpuruk, atau bahkan sampai menyalahkan diri dan keadaan? Maka cobalah untuk selalu bisa menikmati setiap keadaan yang yang telah Alloh rencanakan untuk kita.  

Karena sesuatu yang hilang belum tentu meninggalkan kekosongan, karena jejak-jejak yang
ditinggalkannya tidak pernah benar-benar hilang. Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup. Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru untuk kita agar kita dapat menerima dengan baik proses itu…

Kamis, 23 Juni 2011

Saya, Kamu, Kita, Bukan Cuma Seonggok Daging yang Hanya Punya Nama

Judul buku    : 5 cm. (Novel)
Pengarang    : Dhonny Dhirgantoro
Tebal           : 381 halaman
Penerbit       : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun terbit : April 2011, cetakan ketujuhbelas

Cerita tentang tongkrongan lima orang anak manusia yang mengaku “manusia-manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu”. Kelima anak manusia yang menjadi tokoh sentral dalam certita ini adalah si ganteng Arial, si penyair yang selalu bimbang Zafran, si badan bengkak Ian, the leader Genta, serta si cantik, cerdas dan seorang N-ACH sejati (manusia yang mengutamakan achievement dalam memenuhi kebutuhannya) Riani. Mereka menjalin persahabatan yang sangat erat semenjak SMA, bahkan mereka seperti sudah menjadi bagian satu sama lain. Sering nongkrong bersama, tapi bukan sekedar nongkrong, mereka selalu berdiskusi tentang apa saja, tentang negara, tentang filsafat, tentang cinta atau apapun yang mereka ingin diskusikan. Tentu saja dengan gaya khas mereka, gilaa!

Mungkin sebaiknya kita nggak ketemuan dulu,” Genta mengalirkan kalimat pendek. Menjadi awal mula segalanya, mencoba keluar sebentar dari dunia mereka berlima, agar masing-masing bisa memulai merancang mimpinya sendiri. Tidak saling bertemu dan tidak ada komunikasi sama sekali di antara mereka selama 3 bulan. 

Masing-masing dari mereka membawa cerita sendiri, dengan semua kisah pribadinya. Namun, bagi saya yang paling menyentuh adalah kisah si gajah bledug Dufan, Ian yang berjuang selama kurang dari 3 bulan untuk lulus. Tangan papa-mamanya yang dirasa sudah tidak sehalus dulu lagi, Ian juga merasakan kulit keriput di tangan kedua orangtuanya, tentu memberikan semangat tersendiri. Berjuang dengan sepenuh tenaga, atas dasar keyakinannya bahwa ia pasti bisa diwisuda dua bulan lagi. Hingga pada suatu saat Ian ketemu dengan seseorang yang mau membatu mengisi kuisioner skripsinya dan menurutnya pula ini sebuah Hoki, ya mas Fajar namanya. Namun dosen pembimbing Ian justru melihat dari sudut pandang yang berbeda tentang mas Fajar.

Mas Fajar ada di situ, sore itu, bukan karena kamu hoki,tapi kerja keras kamu selama ini yang telah kamu tanam dengan terus tekundan pantang menyerah dalam menjalankannya. Apa yang kamu kerjakan itu menumpuk dan menunggu untuk dibalas. Ketegaran kamu, ketikan kamu yang berjam-jam, waktu yang kamu habiskan buat baca, waktu yang kamu habiskan buat bolak-balik kemana-mana. Mata kamu yang selalu terlihat lelah karena kurang tidur, keteguhan kamu, semua biaya yang orangtua kamu keluarkan, restu orangtua kamu, semuanya nggak pernah sia-sia.”
Semua akhirnya menumpuk dalam keranjang dharma kamu, menumpuk tinggi, menunggu untuk diberikan ke kamu, dan akhirnya yang Mahakuasa memberikannya kepada kamu dengan berbagai cara yang DIA mau. Salah satunya dengan ketemu mas Fajar di sore itu. Saya, semenjak kamu cerita sudah nggak percaya kalau mas Fajar adalah satu kebetulan. Mas Fajar adalah perantara yang dikirim untuk membalas dharma kamu. Semua usaha kamu selama ini, semua yang telah kamu tanam akhirnya kamu petik.

Kata-kata dari dosen pembimbing Ian inilah yang membuat saya pertama kali menangis selama membaca novel ini. Luas, dalam, dan sangat menyentuh. Bukan hanya tertuju untuk kasus skripsi Ian, tapi mungkin kalimat-kalimat ini juga bisa diaplikasikan pada beberapa segi kehidupan yang sedang saya jalani ini. Bahwa memang tidak ada yang namanya kebetulan, semua terjadi sesuai dengan apa yang telah kita perbuat.
Tiga bulan telah berlalu, mereka akhirnya bisa bertemu dan menceritakan apa-apa yang telah terjadi pada masing-masing selama sekian waktu itu. Di perjalanan menuju puncak mahameru ini juga mereka warnai dengan diskusi-diskusi dan renungan-renungan sederhana namun sarat dengan makna. Tentang bangsa, tentang korupsi, tentang penduduk desa dan kota, atau tentang apa saja yang mereka temui saat itu.

Cinta? Tentu saja ada. Walaupun diceritakan Genta yang jatuh cinta dengan Riani, namun akhirnya Zafranlah yang menikah dan mempunyai anak dari Riani. Padahal Zafran kala itu jatuh cinta dengan Dinda, adik Arial. Itulah cinta, cinta ada untuk cinta itu sendiri, bukan untuk dimiliki, bukan untuk Genta, bukan untuk Dinda, bukan untuk Riani, dan bukan untuk Zafran. Cinta memang ada untuk dicintai dan diungkapkan sebagai sebuah jembatan baru ke pelajaran-palajaran kehidupan manusia selanjutnya. Cinta yang akan membuat manusia lebih mengerti siapa dirinya dan siapa penciptanya.

Sebuah buku yang kocak, menggelitik, menyentuh, dan banyak menambah pengetahuan. Apalagi dipenuhi dengan dialog-dialog yang khas, penggalan lagu-lagu keren sepanjang masa, serta beberapa penggalan dialog dari beberapa film, membuat bacaan ini semakin menarik.

Bermimpilah, bermimpilah, sekali lagi bermimpilah. Setelah itu, biarkan keyakinan itu 5 cm. menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan sering menatap ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa!!

impian.harapan.cita-cita.penciptaku.alamNya.tanahNya.udaraku.udaraNya.cinta.harapan.ilmu.sahabatku.negriku.langit-langit kamarku.syairku.ke-aku-anku.berpijakku.benderaku.aku.dia.mereka.kamu.tanah merahku.hati.semangat.doa.napas.irama.dharmaku.tempatku.demi-ku.langkahku.manusia.jalanku.tempatku berteduh.konjungtiva.niat.hati.rasa.perjuangn.manusia sebenar-benarnya.suciku.putih-ku hitam-ku.tangisku.tumpuanku.ada-ku.genggamanku.erat-ku.garbaku.jelangku.bagindaku.bahagiaku.peluhku.penciumanku.perjuangan.harapan.cinta.telapak kaki surgaku.guruku.diamku.impianku.dayaku

WBL dan konco-konco lawas


Teriknya matahari pantai saat itu, tak mempengaruhi keasyikan kami becengkrama, bersenda gurau, berngakak ria, berpuyeng ria, bermbediding ria juga.. kalo bahasanya Bibi, ada wahana menantang, ada juga wahana meninting -baca biasa-, tapi kata Ita ada manantang, ada meninting, pasti ada menontong juha, hahahaha, tawa lepas kami terbawa angin pantai tuh…
Awal mula perjalanan kami diawali dengan keterlambatan saya dan Ita untuk datang tepat waktu di tempat yang telah ditentukan sebelumnya untuk start awal petualangan ini. Maklum Ita dari jaman sekolah dulu, juga udah terkenal telatan. Kalo saya, telatnya gara-gara Ita, bagaimana tidak? Saya kan dijemput Ita, ngeles.com!! jam kumpul yang semula ditentukan jam 09.30, molor sampe kira kira jam 10.15an. hadeeh, ni molor apa kendor yak?? Bibi, Redi, Uus dan masnya, maafin saya dan Ita ya…
Jebrat-jebret pintu mobil sudah tertutup semua, siap berangkat pak sopir Bibi.. agak takut juga sih, maklum baru kali ini ngerasaain setirannya Bibi, ternyata enak juga, kalem bos!! Sepanjang perjalanan guyon ringan sambil nyanyi-nyanyi kecil, ya iyalah gimana bisa nyanyi keras orang suara mp3 nya keras banget! Sampai di tempat tujuan baru nyadar kenapa Bibi nganjak berangkat lebih awal, biasanya kalo weekend gini kalo kesiangan gak dapat parkir dalam alias parkir di luar kawasan WBL dengan tarif yang dua kali lipat lebih mahal tentunya. Sebelum turun, Redi sudah mulai mencairkan suasana dengan gaya kocaknya, gara-gara guyonan polisi. Melihat ada polisi di depan, spontan salah satu dari kami nyeplos, “Bi, nduwe SIM kan?”. “Yo, nduwe lah!” sahut Bibi. Tiba-tiba ajah Redi nyeplos “Masio gak nduwe, tenang ae Bi, aku kan anggota”. “Anggota opo?” Tanya saya. Sambil melirik ke arah bangku belakang, Redi jawab “Yo pokok’e anggota” hahahaha… ketawa lagiiiii.
Karena gak dapat parkir dalam, akhirnya kami bereanam harus antri nyebrang jalan, entah ada niatan apa tiba-tiba Redi mulai lagi, kali ini dia baca tulisan di salah satu angkot yang ada di situ “Kecil-kecil jadi manten!”. Kali Uus yang buka suara “Ngomong opo seh, Red?”. “Lho, aku lak mek ngomong, Kecil-kecil jadi manten, lapo kok kabeh nguyu??” sambil melirik ke arah saya dan Bibi, yang emang dikaruniai tubuh kecil, hehe.. Yah itulah Redi, dari jaman SD sampe sekarang gak ada bedanya, selalu ajah membuat teman-temannya ngekek. Tapi meskipun gitu, Redi lah orang pertama di antara kami yang mencari toilet. Dia yang membuat banyolan, dia sendiri juga yang cari toilet, hadeeh! Gara-gara itu, salama di WBL setiap kali ada toilet pasti semua pada ngingatin Redi, “Red, gak mampir ta?
Ngantriiii..
Wahana demi wahana, antrian demi antrian terlewati sudah. Hingga sampai pada antrian wahana Rumah Bajak Laut, selama ngantri, seperti biasa kita guyon gak karu-karuan, ngekek, ngakak, sampek kepingkel pun ada, maklum namanya juga kangen-kangenan. Sampai tepat di depan mas penjaganya kita dihentikan karena pengunjung yang masuk dirasa sudah cukup, gak peduli guyon tetep lanjuut, sampe si mas penjaga itu melihat tingkah pola kami sambil senyum-senyum sendiri. Pas pintu antrian di buka, Ita dan Bibi lolos. Tiba giliran saya masuk tiba-tiba mas penjaganya menyetop saya, sontak saya kaget, “Lho kenapa?” Tanya saya dalam hati, perasaan gak ada yang salah, yang masuk juga baru dua orang, Ita dan Bibi yang sudah masuk pun kaget dan berhenti sambil melihat ke arah saya. “Yang pesek dilarang masuk” gitu katanya, sontak saja semua ketawa grrrr…. Ni orang berarti merhatiin kita terus ya? emang sih tadi kita guyonnya masalah papan peringatan yang ada di depan setiap wahana, tentang siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh memasuki wahana ini. Standart lah, paling tidak boleh masuk tuh ibu hamil, penderita jantung, penderita epilepsi, dan sebangsanya. Tapi, lagi-lagi Redi buat ulah, dia bilang “Yang pesek juga gak boleh masuk!!”. Mungkin mas penjaganya denger itu, akhirnya ikut-ikutan nyetop pas saya masuk, hadeeeh…. Tapi akhirnya semua boleh masuk kok, termasuk yang pesek, hehe!
Sampai pada giliran wahana Crazy Car, semacam mobil yang diisi dua orang trus naik-turun gak karuan, pokok’e ngeri banget lah. Sumpah saya gak berani, entah kenapa tiba-tiba nyali saya menciut. Sejak awal Redi sudah pesen nanti pas naik Crazy Car, “Awakmu karo aku yo, Nik!!” pinta Redi dengan gaya membagi pasangan gthu, Ita sama Bibi, dan Uus sama masnya. Nyampek di depan antrian Bibi gugur, karena merasa kapok dengan wahana ini, saya juga gugur dengan alasan gak ada pasangannya. Alhamdulillah kali ini lolos, saya dan Bibi nunggu di bawah sambil gak tahan pengen ngetawain ekspresi mereka berempat, haha… Jrett!! Wahana maut itu telah berhasil mengocok perut, manaik-turunkan adrenalin mereka berempat. Setelah turun, saya dan Bibi menyambut dengan tawa sedikit ngece ke wajah-wajah berempat yang lemes binti kapok dengan bilang gak bakalan ngulangi wahana gila ini lagi. Hahaa lucu!! Uus wajahnya berubah pucat menegang gthu, waduh jujur saya takut Uus kenapa-napa. Akhirnya kami putuskan untuk istirahat dan minum dulu, ya es air mata kucing pake leci, suegerrrrr!!
Wahana selanjutnya yang masih gak kalah menantang tapi saya lupa apa namanya, pokoknya ada kata Ranger nya. Seperti biasa, Redi si tukang buat plesetan membuat nama wahana ini menjadi  Markas Gordon, imajinasinya kembali ke masa-masa SD dulu yang demen sekali sama yang namanya Power Rangers. Awalnya saya sempat ragu, nyali juga sempat ngajak menciut ajah. Tapi demi temen-temen akhirnya ya dech aku mau nyoba. Kasian Ita, karena Uus masih kapok dan puyeng gara-gara Crazy Car jadi gak bisa ikut nyoba wahana Markas Gordon ini. Bismillah, saya masuk antrian bareng Ita, Bibi, dan Redi, sedangkan Uus dan masnya Cuma bisa ngirim doa katanya, hadeeh.. apalagi ini?? Mendekati pintu masuk, nyali saya tiba-tiba menciut banget dan memutuskan untuk mundur. Tapi kali ini saya tidak seberuntung tadi, 3 lawan 1 jelas membuat saya kalah. Gimana nih? Mundur gak bisa, di belakang udah bayak sekali yang ngantri. Wahana ini bukan gila lagi, edan mungkin lebih tepat. Ngeri, ini bukan cuma naik turun tapi dibolak-balik gak karuan. Apa lagi ada lambang halilintar banyak banget, jelas ini bukan permainan biasa, lambang halilintar bokkk!! Tiba saatnya saya duduk bersama Ita, berseberangan dengan Bibi yang duduk bersama Redi. Pasrah, saya tidak yakin pengaman ini akan mengamankan saya kalo pakek acara bolak-balik segala, maklum badan saya yang kecil terasa tidak pas dengan pengaman yang didisain sesuai standard orang dewasa. Selama permainan, saya cuma bisa merem mengeluarkan airmata, gak bisa teriak, hati bergumam “Ceblok yo wis, ceblok yo wis” sambil mbatin ni orang di belakang saya normal gak ya? dalam keadaan serba genting kayak gini sempat-sempatnya ngekek sambil mulutnya komat-kamit, hadeeh! Sampai akhirnya permainan berhenti, dan saya pun masih shock, Ita meninggalkan saya sendirian. Ternyata mereka bertiga telah menunggu saya di pintu keluar sambil menertawakan saya, katanya ekspresi saya lucu. Apalagi pas posisi badan terbalik di atas, Redi yang sempet memperhatikan saya, dia bilang “Nunik lho merem ae!!” gilaaa, permainan kayak githu mana bisa melek? Rasanya gak sampai hati melihat kenyataan kalu saya berada di atas dengan posisi badan terbalik. “Rugi rek, numpak kok merem? Apane sing dinikmati?” ujar Redi, Bibi yang merasa senasib dengan saya selama permainan membela diri, “Lha gak wani kok, yaopo maneh?
Petualangan belum selesai, masih ada Roll Coaster dan wahana-wahana lain yang kami anggap ringan yang mulai kami coba lagi satu persatu. Karena udah merasa lelah, kami putuskan untuk istirahat leyeh-leyeh sebentar di pantai sambil melihat permainan Sepeda Air dan Banana Boat yang ada di pinggir pantai tidak jauh dari kami. Dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan menuju semacam tempat pertunjukan musik dengan duduk di tribun paling atas leyeh-leyeh menikmati alunan musik dangdut, goyang maaang!! Merasa ada satu wahana yang belum sempat kami masuki yakni wahana Bioskop 3 Dimensi karena tadi antriannya puwanjang banget. Kami pun bergegas menuju ke wahana itu dan langsung ngantri, berenam masuk semua. Kesannya, biasa, kayak gaka ada bedanya dengan nonton bioskop biasa!. Keluar dari bioskop Redi kekeh pengen masuk wahana Rumah Sakit Hantu, sedangkan Saya, Uus, Bibi udah merasa lelah banget dan bener-bener gak bisa nemeni Redi masuk, tapi akhirnya Redi ditemani masnya Uus kok..
Laper rekk…” teriak saya. “Sholat dhisek, trus mangan!!” sahut Bibi dengan tegasnya. Ayo, sholat..sholat…. Perjalanan menuju mushola tentu saya ramaikan dengan menu makan apa ya pas buat kita-kita yang lagi kelelahan, kecapekan, plus kelaparan, haha! Bibi nyeplos “Nag ngarep onok warung Cumi. Onok sing alergi Cumi gak?”. “Gak onooook!!” serentak yang lain menjawab. Selesai sholat, kita sempatkan untuk berfoto bersama sebelum keluar dari lokasi. Selanjutnya nyabar nyari oleh-oleh dulu, saya dapat permen lollipop inceran sejak jaman kuliah dulu, Redi dapet kaos made in Ki Rangan (dalam bahasa Indonesia artinya tidak tahu), Uus dan masnya dapet camilan, Ita nyari kacamata tapi gak dapet, sedangkan Bibi yang sudah lumayan sering main ke WBL cuma beli minuman pocary sweat ajah.
Awas njomplang rekk....
Sayonara WBL, wassalamualaikuuum… Di seberang jalan, kami sudah ditunggu warung makan cumi. Asyikk, akhirnya makan jugaaa!! Hmmm, yummiiii makan cumi minumnya es dawet sialan, eh salah, dawet siwalan maksudnya. Kenyang, ayo pulang rek udah mulai gelap nih… ketika mau meninggalkan warung makan, tiba-tiba ajah kita ketemu lagi sama mas penjaga wahana Bajak Laut tadi. Masnya juga senyum-senyum githu, kami pun bales senyum juga, malah si Redi, Bibi, dan Ita ngakak inget kejadian tadi. Tanpa pikir panjang, saya yang merasa sebagai aktris utama kajadian di depan pintu masuk wahana Rumah Bajak Laut tadi langsung menyapa masnya dengan bilang “Piss mas!!”. Eh, masnya juga bales dengan senyum dan “Piss juga!” katanya. 
Nuniiiik... jepret!!

Di perjalanan pulang, kami gak banyak tingkah. Mungkin kerena bener-bener udah kelelahan seharian muter-muter. Sesekali saling bicara, mencairkan suasana yang dipenuhi kantuk, bicara seadanya lalu lemes lagi. Hanya suara musik yang terus meramaikan perjalanan pulang kami. Alhamdulillah, kira-kira jam 18.15 kami nyampek di rumah Bibi...

Rabu, 15 Juni 2011

Bu Siami, Ini Bukan Masalah tak Punya Hati!

“Masalah ini membuat mental anak saya terbebani, apalagi harus ujian ulang. Seharusnya tidak usah dilakukan ujian ulang.”, ucap Bu Siami.

Bu Siami, ibu dari Alif Ahmad Maulana (Alif), salah satu peserta Unas SDN Gadel 2 Tandes, Surabaya merasa cemas akan kabar bahwa akan diadakan Unas ulang jika nilai siswa satu kelas Alif banyak yang sama dan bisa dipastikan terjadi “contek masal”. Beliau mengkhawatirkan kondisi mental Alif jika Unas ulang ini benar-benar dilaksanakan. Kasus ini bermula dari Alif yang dipaksa oleh dua orang gurunya untuk memberikan contekan jawaban Unas kepada teman-temannya. Alif sendiri tidak pernah menceritakan kejadian ini kepada ibunya, Bu Siami justru mendengar berita tersebut dari desas-desus tetangga di sekitar rumahnya. Setelah didesak ibunya, Alif akhirnya mengaku terpaksa memberikan contekan kepada teman-temannya karena dipaksa oleh gurunya. Bu Siami lantas mengadukannya kepada Kepala Sekolah, Komite Sekolah, bahkan ke Dinas Pendidikan setempat, namun tidak ada tindakan lebih lanjut. Parahnya, karena kejadian ini, Bu Siami sampai diusir dari lingkungan tempat tinggalnya, bahkan ada yang mengatakan bahwa Bu Siami tak punya hati karena membesar-besarkan kasus tersebut.

Kasus Bu Siami ini merupakan salah satu contoh kecurangan dari begitu banyak kasus kecurangan yang terjadi pada setiap kali penyelenggaraan Unas. Bukan hanya di tingkat SD melainkan juga pada tingkat sekolah menengah -SMP dan SMA-. Kasusnya pun bermacam-macam, mulai dari tidak lancarnya distribusi soal Unas ke daerah-daerah, kebocoran soal Unas, sampai pada kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pelaku pendidikan, baik siswa maupun guru.

Bagaimana dengan dampak dari kecurangan ini? Secara psikologis jelas berdampak pada kondisi mental anak, dalam hal ini Alif. Apalagi jika benar akan diadakan Unas ulang, Alif harus belajar lagi, harus mempersiapkan mental untuk menghadapi guru dan teman-teman sekelasnya setelah kasus ini menjadi besar. Lebih luas lagi, berdampak pada imej dunia pendidikan di Indonesia, terutama pandangan negatif masyarakat terhadap guru. Sehingga usaha untuk mewujudkan sistem pendidikan yang ideal semakin jauh dari hasil yang diharapkan.

Bu Siami, kejujuran anda patut diberi acungan jempol. Sekolah memang merupakan wadah untuk mentransformasi ilmu pengetahuan, tetapi pendidikan budi pekerti siswa jangan dilupakan. Rasanya sia-sia saja jika siswa memiliki nilai akademis yang bisa dibanggakan, namun tidak menjadi manusia yang bermoral. Sikap Bu Siami sebagai orangtua yang mengajarkan tentang kejujuran kepada anaknya ini perlu dijadikan teladan. Sebab melalui teladan, anak akan lebih mudah untuk meniru ketimbang dari sekedar perintah yang tidak dibarengi sikap positif orangtua atas apa yang diperintahkan tersebut.

Andai saja semua orangtua seperti Bu Siami, akan ada berapa kasus yang bisa terbongkar? Pertanyaan selanjutnya adalah, apa iya akan bisa tertuntaskan? Bukankah selama ini hanya muncul sebentar, lalu menghilang lagi tanpa upaya tindak lanjut yang jelas sehingga kasus yang sama muncul kembali di tahun-tahun berikutnya..

Solusinya? kalau evaluasi Unas atau evaluasi sistem pendidikan yg selama ini sering digembor-gemborkan pemerintah tidak pernah ada hasil, maka bagaimana jika perbaikan atau penataan kembali sistem pendidikan itu dimulai dari tingkat lingkungan keluarga? Seperti Bu Siami, yang selalu berusaha menanamkan nilai kejujuran kepada Alif. Sebab, mengandalkan usaha pemerintah saja tidaklah cukup kalau tidak dibarengi dengan usaha dari diri sendiri untuk mewujudkan perubahan. Mulai menciptakan iklim yang edukatif di lingkungan keluarga, tanamkan budi pekerti mulai dari hal yang sederhana, lalu beri contoh sikap bukan sekedar ucapan perintah. Semoga!

Minggu, 12 Juni 2011

Beranalog Yukk…

“Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran” (QS. 32:27)

Sampai usia saya yang telah memasuki tahun ke-24, setelah tahu bagaimana belajar melalui lembaga formal -sekolah dan perguruan tinggi-, sedikit demi sedikit saya mencoba untuk belajar melalui pengalaman, sendiri maupun dari orang lain. Namanya tetap sama, belajar!! Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak paham menjadi paham. Sehingga poin penting dari belajar yakni merubah segala yang dirasa masih kurang menjadi tepat guna dapat diaplikasikan.

Sampai pada suatu saat saya tertarik pada beberapa tweet dari akun jejaring sosial seorang psikolog keluarga. Ya, mbak Alissa Qatrunnada, putri pertama mendiang almarhum Gus Dur. Beliau wanita yang smart, anggun, dan tentu saja beragama. Awalnya saya suka saja membaca tweet-tweetnya, tanpa saya tahu bagaimana beliau mengolah setiap kata sehingga membuat saya, -bahkan mungkin orang lain- terbius dan bisa mengambil manfaat. Hingga pada suatu pagi, dalam keadaan setengah sadar karena baru bangun tidur hehe, perlahan saya mencoba memahami bahwa apa yang beliau tulis itu adalah bahasa perumpamaan. Ya, bisa dikatakan analogi..

Di salah satu tweet beliau, ketika pesawat yang ditumpanginya take off. Dalam keadaan itu beliau merasakan guncangan yang sangat kuat. Lalu beliau menuliskan “Seperti guncangan dalam hidup, yang tidak selalu berarti kehancuran”. Subhanallah..
Itu yang saya coba tiru, ketika facial di salah satu salon kecantikan, ciyee.. meskipun niru kalo positif boleh kan?? Seperti ini tulisan saya, “Teringat facial tadi siang. Untuk bisa cantik ternyata dilalui dengan banyak tekanan, kadang geli, ada nangisnya juga. Kayak hidup ya?”

“Laut yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang tangguh”. Bagaimana dengan hati??

Jika pada beberapa kesempatan saya selalu berdo’a: Tuhan, ingatkan aku dengan cara yang mudah aku pahami, maka sama halnya dengan: Kawan, belajar dari hal-hal kecil yang mudah kita pahami yukk…

Sabtu, 05 Februari 2011

HOW TO PREDICT OUR CARIER?? Imitate to Roe’s Personality Development Theory

Pekerjaan, begitu biasanya orang pada umumnya mengartikan karir. Merupakan satu dari banyak aspek penentu kepuasan pribadi seseorang, yakni kesesuaian antara atribusi yang disumbangkan dengan hasil yang didapatkan. Kepuasan kerja mungkin relatif bagi sebagian orang, namun demikian pekerjaan merupakan sebuah hal yang sangat eksistensial sebab pekerjaan sangat berhubungan dengan status, identitas, standar hidup, juga kepuasan. Secara psikologis, pekerjaan adalah suatu potensi pemenuhan kebutuhan, kesejahteraan, dan pemberi makna hidup bagi seseorang. Sebenarnya, orang yang tidak bekerja atau pensiun cenderung lebih mengeluh bahwa mereka kehilangan hormat dan makna dalam hidup mereka daripada mengeluh karena kehilangan sumber pendapatan. Karena itu dapat dikatakan, pekerjaan itu sangat penting bagi seseorang, karena dengan pekerjaan seseorang dapat menemukan diri dalam keberagaman dinamika kehidupan, sedangkan hilangnya pekerjaan dapat menyebabkan ketidakbahagiaan.
Terdapat banyak sekali asumsi yang telah dihasilkan dari tokoh-tokoh perkembangan karir tentang pilihan karir seseorang, beberapa dari asumsi tersebut diantaranya: bahwa pemilihan karir didasarkan pada kematangan/ kemampuan seseorang pada setiap tahapan perkembangan (Norris), pengambilan keputusan pilihan karir didasarkan pada periode antisipasi dan periode implementasi yang dilalui (Tiedeman), manusia memiliki karakter -minat, bakat, dan inteligensi- yang stabil dan relatif tidak berubah (Parson), pemilihan karir ditentukan dengan melihat konsep diri (Super), seseorang dengan kepribadian bawaannya ditarik dan dicocokkan pada pekerjaan sesuai dengan karakteristik-karakteristik tertentu (Holland), proses pilihan karir didasarkan atas peristiwa-peristiwa kehidupan khususnya peristiwa yang memiliki pengaruh kuat terhadap pilihan karir (Krumboltz), pemilihan karir didasarkan pada pendekatan psikologis atas tugas-tugas perkembangan yang dilaluinya (Ginzberg), dan masih banyak lagi asumsi dari tokoh-tokoh perkembangan karir lainnya. Sedangkan Anna Roe mengembangkan teori untuk memprediksi pilihan karir dari sudut pandang perbedaan individu secara biologis, sosiologis dan psikologis. Lebih khususnya, Roe memfokuskan perkiraan pemilihan karir berdasarkan kebutuhan psikologis yang berkembang dari interaksi antara anak dan orangtua.
Teori perkembangan karir dari Roe ini sangat luas, tidak hanya didasarkan pada hirarki kebutuhan dari Maslow -kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan dicintai, harga diri, informasi, mamahami dan dipahami, keindahan, serta aktualisasi diri- saja, melainkan didasarkan juga atas beberapa proposisi, yaitu pertama, Roe percaya bahwa intelegensi dan tempramen lebih ditentukan oleh faktor genetik daripada minat dan sikap. Secara umum, minat dan sikap dapat dipelajari dengan dimulai pada usia sedini mungkin, sedangkan intelegensi dan tempramen hanya berkembang dari faktor genetik (Limits of genetic inheritance). Kedua, Roe menemukan banyak sekali keterbatasan seperti keterbatasan ekonomi, gender, dan kultur sosial masyarakat. Contohnya: seseorang yang berasal dari keluarga miskin tentu saja tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa belajar seperti seseorang yang berasal dari keluarga yang lebih kaya, atau seseorang yang berasal dari desa memiliki kesempatan pemilihan pekerjaan yang lebih terbatas dibandingkan dengan seseorang yang hidup di kota (Limits of sociological and economic factors). Ketiga, perkembangan dari kecenderungan genetik minat dan sikap merupakan aspek penting dalam teori perkembangan karir Roe. Minat dan sikap tersebut merupakan suatu hal yang tanpa sengaja, artinya seseorang tidak bisa memilih orangtua, guru, atau beberapa situasi yang mereka inginkan. Namun, Roe lebih menekankan bahwa kepuasan atau tingkat frustasi seseorang itu ditentukan dari bagaimana kebutuhan mereka bisa terpenuhi atau tidak (Development of interest and attitudes). Keempat, minat ditentukan dari seberapa besar tingkat kebutuhan, sebagai contoh: siswa yang ingin mengetahui banyak hal tentang mata sangat berharap gurunya bisa memberikan informasi yang dibutuhkan tersebut -sebagai bentuk rangasangan minat-, namun jika siswa merasa kecewa karena kurangnya informasi atau tidak mampu untuk lebih memahami, maka aktifitasnya juga tidak akan berkembang -sebagai bentuk minat- (Determinants of interests). Kelima, lebih hebatnya lagi jika pemenuhan kebutuhan tersebut mampu membawa kesuksesan. Jika kebutuhan siswa untuk informasi dan pengetahuan tentang mata terpenuhi, maka siswa akan belajar tentang mata dengan lebih giat lagi, sebagai hadiahnya siswa tersebut dicintai, dihormati, dan diterima. Mendapat pujian dari orangtua dan gurunya pun memberikan rangking tertinggi, yang pada intinya perlu adanya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai motivator (Development of needs into motivators).
Roe berpendapat bahwa frustasi atau ketidakpuasan yang dialami pada masa kanak-kanak, akan dapat dipuaskan melalui pekerjaan seseorang dengan pilihan orientasi yang mengarah pada orang lain -berhubungan dengan manusia- atau bukan mengarah pada orang lain -berhubungan dengan benda-. Berbagai variasi sikap orangtua terhadap anak, seperti pola pengasuhan yang berpusat pada anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang overprotective atau terlalu menuntut (Concentration on the child), pola pengasuhan penolakan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang selalu menolak dan mengabaikan (Avoidance of the child), dan pola pengasuhan penerimaan terhadap anak yang ditunjukkan dengan perilaku orangtua yang mencintai dan menerima anak apa adanya (Acceptance of the child) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arah pilihan karir anak pada masa yang akan datang. Seseorang yang menentukan pilihan karirnya dengan memilih untuk bekerja/ berinteraksi bersama orang lain menurut Roe disebabkan oleh kehangatan dan penerimaan dari orangtua yang telah ia dapatkan pada masa kanak-kanak, sebaliknya seseorang yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang menolak atau mengabaikan -acuh- akan cenderung memilih pekerjaan yang sedikit sekali membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Berdasarkan uraian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir menurut Roe di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa teori ini bertujuan untuk penciptaan kondisi agar seseorang mampu memilih pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan, melalui interaksi orangtua-anak atau pola asuh orangtua dalam keluarga. Dalam arti lain, sebenarnya orangtua bisa membuat prediksi tentang pilihan karir dari anak-anaknya. Dengan menciptakan iklim yang penuh penerimaan yang hangat dan cinta kasih dalam keluarga, menurut Roe sama halnya dengan mempersiapkan karir anak untuk lebih tertarik pada bidang-bidang karir/ pekerjaan yang bersifat memberikan pelayanan atau pekerjaan yang membutuhkan interaksi sosial yang cukup tinggi. Berbeda dengan anak yang tumbuh dari lingkungan keluarga yang penuh penolakan atau pengabaian -acuh-, maka ia akan lebih cenderung memilih pekerjaan yang berhubungan dengan mesin atau mekanik dan tidak banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Oleh sebab itu, bimbingan dan konseling menyediakan ruang bagi terciptanya kesesuaian antara kebutuhan dengan pemenuhan kepuasan akan pekerjaan seseorang. Tentu saja dengan didasarkan pada aspek biologis, sosiologis, dan psikologis yang telah diutarakan oleh Roe dalam beberapa uraian di atas. Sehingga dengan menggunakan sistem klasifikasi 48 jenis pekerjaan yang terbagi dalam 8 kelompok dan 6 level pekerjaan, konselor dapat mengatur informasi tentang karier ketika berbicara dengan klien tentang pilihan karirnya.

Sabtu, 19 Juni 2010

TIPS dalam BERKOMUNIKASI

Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah sikap menghargai. Begitu pula untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar menghargai orang lain. Karena dengan penghargaan diri, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
Lalu, mampukah kita??

Beberapa poin di bawah ini sedikit akan membantu:
1.ROYALLAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus seseorang akan penghargaan. Kalau kita selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, kita berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2.ANTUSIASLAH
Pada dasarnya setiap orang ingin disengarkan, diperhatikan, bahkan dihargai. Maka dari itu, antusiaslah dalam berkomunikasi dengan orang lain. Buat seolah-olah apa yang dikatakan adalah suatu hal yang sangat penting dan kita sangat membutuhkan informasi itu.
3.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa kita menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
4.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
5.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut “Andre” lebih baik dibandingkan “Anda”. “Pak Achmad” lebih enak kedengarannya daripada sekedar “Bapak”.
6.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat kita.
7.BERMURAH HATILAH
Kita tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri”. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat kita, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
8.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA, ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri (ego defens) dengan sikap yang tidak bersahabat.
9.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata “Ya”, tetapi orang yang bisa berkata “Tidak” pada saat yang diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat kita berseberangan dengan orang lain. kita tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan kita. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain, yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibandingkan sikap Yess Man.
10.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang kita inginkan dari orang lain yang dapat menyenangkan hati, itulah yang harus kita lakukuan terlebih dahulu. Kita harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
11.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ingat, ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri, atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin kita menyukai diri sendiri, semakin mudah kita menyukai orang lain, maka semakin besar peluang kita untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, kita akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, menyukai, hingga mampu bekerja sama dengan mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari, kita memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai kita.

Tidak ada cara lain untuk menghindari agar tidak mengadakan kontak dengan orang lain setiap hari, kecuali menjadi seorang petapa. Menjalani kontak ini merupakan kunci apakah kita akan menyukainya atau tidak, disukainya atau tidak.

Tanpa sadar, dengan melakukan kontak dengan orang lain kita telah belajar bagaimana memahami keunikannya. Tanpa sengaja pula terkadang kita mulai menilai seseorang, dengan beberapa peniaian yang diantaranya:

•“Kepribadian seperti apa yang dimiliki lawan bicara kita ini?” kita bisa mengetahui hanya dengan mengamati bagaimana dia berbicara. Apakah dia percaya diri atau ragu–ragu, berdiam di suatu tempat saja atau suka kemana–mana, suka mengagumi diri sendiri atau rendah hati.
•“Apa sikapnya yang paling umum?” kita bisa mengetahui dengan memperhatikan apakah dia seorang yang pesimis atau optimis, liberal atau konservatif, dan apakah dia dengan sendirinya mau menerima pendatang baru, hangat, atau gampang curiga.
•“Saat ada pandangan baru masuk dalam percakapan, apakah reaksi pertamanya positif atau negatif?”

Pertanyaan–pertanyaan seperti ini secara cepat dapat memperkaya diri kita dengan wawasan mengenai orang lain. Mudah merespon dan berbicara ke setiap orang yang baru kita kenal dengan cara yang dia mengerti. Yang lebih penting, kita dapat menunjukkan melalui tindakan dan kata–kata bahwa kita menghargai dan menghormati keunikan setiap orang. Lakukan ini, dan sebagai balasannya, mereka pasti menghormati dan menyukai kita sebagai individu yang unik pula.

MENGHARGAI TUBUH

Bagaimana Anda mencintai tubuh Anda? Apakah Anda cukup puas dengan tubuh sendiri? Bila kurang puas, ikuti saran dari Margo Maine, Ph.D berikut ini:
1. Tubuh Anda adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa, mulailah untuk menghargainya.
2. Buat daftar yang mencantumkan hal-hal yang dapat dilakukan tubuh Anda. Baca dan tambah terus daftar itu.
3. Sadari apa yang bisa dilakukan tubuh Anda setiap hari. Ingatlah bahwa tubuh adalah instrumen kehidupan, bukan sekadar hiasan
4. Buatlah daftar orang-orang yang Anda kagumi: orang yang banyak menyumbang hal positif dalam hidup Anda, di masyarakat dan di dunia. Perhatikan apakah penampilan fisik mereka tampak penting dalam menunjang kesuksesan dan pencapaiannya.
5. Berjalanlah dengan kepala diangkat, didukung rasa percaya diri.
6. Jangan biarkan berat badan atau postur tubuh menghalangi Anda menikmati kegiatan yang disukai.
7. Pakailah baju yang nyaman, disukai dan terasa enak di tubuh.
8. Hitung berkat yang Anda terima, bukan kemalangan-kemalangan.
9. Pikirkan hal-hal lain yang bisa dicapai dengan waktu dan energi yang dihabiskan untuk mengkhawatirkan badan dan penampilan.
10. Jadilah sahabat serta pendukung, bukan musuh bagi tubuh sendiri.
11. Pikirkan bahwa kulit Anda beregenerasi setiap bulan, perut setiap lima hari, liver setiap 6 minggu dan tulang setiap tiga bulan.
12. Setiap bangun tidur di pagi hari jangan lupa berterimakasih atas istirahat untuk tubuh sehingga tubuh terasa segar.
13. Setiap malam saat akan tidur jangan lupa berkata kepada tubuh Anda betapa berharganya tubuh, sehingga membantu melaksanakan tugas sehari-hari.
14. Temukan metode latihan olahraga yang Anda nikmati dan lakukan secara teratur. Tapi jangan berolahraga untuk menurunkan berat badan atau melawan tubuh sendiri. Lakukan olahraga untuk kesehatan dan kekuatan tubuh, karena membuat Anda nyaman.
15. Ingat kembali saat Anda merasa nyaman dengan tubuh Anda. Katakan pada diri sendiri Anda dapat merasa seperti itu lagi, bahkan pada usia yang tidak muda lagi.
16. Buatlah daftar 10 hal positif tentang diri sendiri tanpa menyebut penampilan fisik.
17. Buat tulisan dan tempel di kaca rias: saya tampil menarik dari dalam dan luar.
18. Cari hal-hal indah yang ada di dunia dan pada diri Anda sendiri.
19. Mulailah berkata pada diri sendiri: hidup itu terlalu singkat untuk menghabiskan waktu membenci tubuh sendiri.
20. Makanlah ketika lapar dan istirahat ketika lelah. Carilah teman-teman yang bisa mengingatkan akan kecantikan luar dan dalam yang ada pada diri Anda.

Jika ada yang mengatakan, “tidak ada manusia yang sempurna” itu memang benar. Namun akan menjadi lebih benar jika kita mampu menjadikan apa yang kita punya saat ini sebagai sebuah jembatan proses untuk menuju sebuah kesempurnaan jiwa. Maka mulailah mencintai diri sendiri, dengan menghargai tubuh yang kita miliki saat ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Sumber: KOMPAS.com